China Marah, 2 Kapal Militer AS Berlayar di Selat Taiwan

China Marah, 2 Kapal Militer AS Berlayar di Selat Taiwan

Washington DC – Amerika Serikat (AS) mengerahkan dua kapal militer milik angkatan laut-nya berlayar melewati Selat Taiwan. Aksi militer AS dalam meningkatkan pergerakan di perairan strategis ini langsung memancing kemarahan China.

Seperti dilansir Reuters, Selasa (26/2/2019), langkah AS yang terjadi pada Senin (25/2) waktu setempat ini berisiko meningkatkan ketegangan dengan China, namun kemungkinan akan dipandang oleh Taiwan sebagai bentuk dukungan dari pemerintahan Presiden AS Donald Trump.

Pengerahan dua kapal Angkatan Laut AS ini terjadi saat Trump menyebut AS dan China ‘sangat, sangat dekat’. Dengan kesepakatan untuk mengakhiri perang dagang yang berlangsung berbulan-bulan yang sudah memperlembat pertumbuhan global dan mengganggu pasar dunia.

Pergerakan kapal militer AS di Selat Taiwan ini terjadi beberapa hari menjelang pertemuan puncak kedua antara Trump dan pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong-Un, yang akan digelar di Vietnam.

“Transit kapal-kapal melalui Selat Taiwan ini menunjukkan komitmen AS pada Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka,” demikian pernyataan Armada Pasifik AS.

Dalam pernyataannya, Armada Pasifik AS mengidentifikasi kedua kapal militer itu sebagai kapal penghancur, Stethem dan kapal kargo serta amunisi Angkatan Laut, Cesar Chavez. Kedua kapal militer AS itu berlayar melewati perairan selebar 180 kilometer yang memisahkan Taiwan dan China.

Otoritas China menyatakan kemarahan pada langkah AS itu, “Kami dengan tegas menantang Amerika Serikat dalam mengambil langkah provokatif yang tidak kondusif untuk perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan,” sebut juru bicara Kementrian Luar Negeri China, Lu Kang, dalam konferensi pers.

Secara terpisah, Kementerian Pertahanan Taiwan menyatakan bahwa kapal-kapal militer AS itu telah meninggalkan perairan Selat Taiwan melalui rute utara.

Dinyatakan otoritas Taiwan bahwa Angkata Bersenjata Taiwan terus mengawasi pelayaran kapal-kapal itu dan tidak menemukan hal-hal yang tidak wajar, jadi tidak ada alasan untuk memberikan peringatan.

AS tidak memiliki hubungan diplomatik secara resmi dengan Taiwan, namun terikat oleh hukum untuk membantu membela negara kepulauan itu. Terlepas dari itu, AS merupakan sumber persenjataan utama bagi Taiwan. Disebutkan Pentagon bahwa AS telah menjual persenjataan senilai lebih dari US$ 15 milliar kepada Taiwan sejak tahun 2010.

Di sisi lain, China akan terus meningkatkan tekanan untuk menancapkan kedaulatannya atas Taiwan. China selalu menganggap Taiwan sebagai salah satu provinsinya yang ‘membangkang’ yang ada di bawah kebijakan ‘satu China’. Taiwan sendiri yang menganut sistem demokrasi tidak ingin dikuasai oleh China yang autokrat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *