Kisah Perjalanan Huawei yang Kini Dituduh Jadi Mata-mata China

Beijing – Dalam waktu dekat, jaringan internet 5G akan tersebar dimana-mana. Huawei adalah pionirnya, tetapi kini dituduh menjadi gerbang bagi China untuk memata-matai negara-negara Barat.

Apakah benar demikian? Atau Huawei merupakan korban dari rumor tak menguntungkan tersebut?

Peretasan Misterius?

Markas Uni Afrika (AU) di Addis Ababa tampak seperti pesawat luar angkasa yang berkilauan di tengah cahaya matahari. Dengan gedung pencakar langit yang berdiri di sampingnya, markas tersebut tampak mencolok di ibu kota Ethiopia.

Sapaan salam dalam bahasa Mandarin menyambut pengunjung saat memasuki elevator, pohon-pohon palem plastik menahan logo Bank Pembangunan China.

Kisah Perjalanan Huawei yang Kini Dituduh Jadi Mata-mata China

Selesai dibangun tahun 2012, gedung markas Uni Afrika ini jadi kebanggan akan kedekatan hubungan Afrika dengan China (BBC).

Namun pada bulan Januari 2018, surat kabar berbahasa Perancis Le Monde Afrique menulis berita menghebohkan.

Mereka melaporkan bahwa sistem komputer Uni Afrika telah disusupi.

Surat kabar tersebut – yang mengutip sejumlah sumber – menyatakan bahwa selama 5 tahun, setiap malam antara tengah malam hingga pukul 2 dini hari, data dari server Uni Afrika ditransfer ke server di kota berjarak 8.000 kilometer dari Addis Ababa: Shanghai.

Hal tersebut diduga terus berlangsung selama 1.825 hari berturut-turut.

Le Monde Afrique melaporkan bahwa hal tersebut mulai tersorot pada tahun 2017, ketika seorang ilmuwan yang bekerja pada Uni Afrika merekam aktivitas komputer yang tidak biasa dalam jumlah besar di server AU pada jam-jam ketika semua pegawai sudah meninggalkan gedung kantor.

Dilaporkan pula penemuan mikrofon dan alat pendengar di dalam tembok-tembok dan meja-meja di gedung tersebut, menyusul penyisiran terhadap ancaman penyadapan.

Reaksi pun dengan cepat muncul. Baik pejabat Uni Afrika maupun China mengutuk pemberitaan tersebut sebagai berita bohong dan sensasional semata. Mereka menyebutkan sebagai upaya media Barat untuk merusak hubungan antara China yang bersikap lebih tegas dengan Afrika yang semakin berdikari.

Namun Le Monde Afrique mengatakan bahwa pejabat AU sendiri telah secara diam-diam menyatakan kekhawatiran mereka akan betapa tergantungnya mereka terhadap bantuan China dan konsekuensi apa yang kemudian bisa muncul.

Di tengah itu semua, sebuah fakta terlewat untuk diberitakan.

Kisah Perjalanan Huawei yang Kini Dituduh Jadi Mata-mata China

Huawei membantah tuduhan bahwa mereka menyolong aksi mata-mata China. Penyuplai utama informasi dan sistem teknologi komunikasi ke markas AU merupakan perusahaan perangkat telekomunikasi terkemuka asal China, Huawei.

“Ini bukan berarti perusahaan tersebut terlibat dalam pencurian data,” ujar Danielle Cave, pengamat senior Australian Strategic Policy Institute, dalam ulasan terkait dugaan insiden tersebut.

“Namun, sulit untuk tidak melihat Huaewi – yang berperan sebagai penyedia perangkat sekaligus penyedia kunci layanan informasi dan sistem teknologi komunikasi markas AU, khususnya bagi pusat data AU – benar-benar tidak tahu menahu soal pencurian data besar-besaran yang sangat kentara, setiap hari, selama lima tahun.”

Kisah Perjalanan Huawei yang Kini Dituduh Jadi Mata-mata China

Juru bicara Huawei mengatakan kepada BBC, “Jika ada kebocoran data dari komputer-komputer di markas AU di Addis Ababa yang berlangsung selama periode waktu tertentu, data-data ini tidak berasal dari teknologi yang disuplai Huawei bagi AU. Yang kami sediakan bagi proyek AU adalah fasilitas pusat data, tetapi fasilitas-fasilitas itu tidak memiliki fungsi sebagai ruang penyimpanan data maupun fungsi transfer data.”

Tidak adanya bukti yang menunjukkan bahwa perangkat jaringan telekomunikasi Huawei digunakan oleh pemerintahan China – atau siapapun – untuk memperoleh akses ke data pelanggan mereka. Huawei merupakan satu dari sejumlah penyuplai proyek tersebut.

Dan memang, tidak ada satu pun orang yang sejak awal secara terbuka membenarkan adanya penyusupan terhadap sistem komputer Uni Afrika.

Namun berita-berita tersebut lantas menimbulkan kecurigaan bertahun-tahun terhadap Huawei – bahwa perusahaan raksasa asal China itu sangat dipengaruhi oleh pemerintah China.

Ren Zhengfei dan kebangkitan Huawei

“Ketika saya memulainya 30 tahun lalu… Kami tidak punya telepon sama sekali. Satu-satunya telepon yang kami punya adalah telepon putar yang biasanya kamu lihat di film-film Perang Dunia II. Kami belum maju saat itu.”

Pendirinya sekaligus pemimpin Huawei. Ren Zhengfei, meraba memorinya tentang awal mula ia mendirikan perusahaan telepon pintar terbesar kedua di dunia itu kepada BBC, di markas Huawei yang berdiri di kota Shenzhen – simbol kesuksesan yang ia rintis sejak lama.

Tangga panjang dari marmer, dilapisi karpet merah mewah, menyambut anda saat memasuki gedung itu.

Di puncka tanggah, sebuah lukisan raksasa tampak menggambarkan pemandangan perayaan tradisional tahun baru China.

Di kota Dongguan yang berjarak beberapa kilometer, kampus terbaru Huawei bahkan terlihat lebih mencolok.

Lokasi itu – yang dirancang untuk mengakomodasi 25.000 staf penelitian dan pengembangan perusahaan – terdiri dari 12 “desa”, masing-masing mereka ulang gaya arsitektur beberapa kota di benua Eropa, diantaranya Paris, Bologna dan Granada.

Kompleks itu tampak seakan-akan Silicon Valley diciptakan ulang oleh Walt Disney.

Koridor-koridor panjang yang terbentuk dari deretan pilar khas arsitektur Romawi serta kafe-kafe cantik menghiasi lingkungan kampus, dengan sebuah kerea yang menghubungkan kawasan yang satu dengan kawasan lainnya, melintasi kebun yang ditata rapi dan sebuah danau buatan.

Kisah Perjalanan Huawei yang Kini Dituduh Jadi Mata-mata China

Lingkungan kampus itu jauh berbeda dengan lingkungan yang ada disekitar Ren saat ia pertama kali mendirikan perusahaannya itu tahun 1987 lalu.

“Saya mendirikan Huawei saat China mulai menerapkan kebijakan reformasi dan keterbukaan,” ujarnya. “Saat itu, China tengah berubah dari sistem ekonomi terencana, menjadi sistem ekonomi pasar. Jangankan saya, pejabat pemerintah paling senior pun tidak tahu seperti apa sistem ekonomi pasar itu. Rasanya akan sulit untuk bertahan.”

Kisah Perjalanan Huawei yang Kini Dituduh Jadi Mata-mata China

Ren lahir tahun 1944 di China Selatan – daerah yang penuh kekacauan dan kerusuhan, salah satu daerah termiskin di negara yang kala itu dalam kondisi melarat.

Untuk waktu yang lama, kesulitan akrab dalam hidup Ren.

Ia berasal dari keluarga dengan tujuh anak. “Mereka sangat miskin,” ungkap David De Cremer yang ikut menulis buku mengenai Ren dan Huawei.

Kisah Perjalanan Huawei yang Kini Dituduh Jadi Mata-mata China

“Saya rasa kesulitan merupakan sesuatu yang bisa anda lihat di sepanjang hidupnya, sesuatu yang ia terus tekankan pada sosoknya.”

Untuk keluar dari kemiskinan dan pekerjaan yang membosankan. Ren melakukan apa yang banyak pemuda CHina lakukan pada masa itu. Ia menjadi tentara.

“Saya menjadi anggota berpangkat rendah di pasukan Tentara Pembebasan Rakyat,” ungkapnya. “Saya bekerja di proyek konstruksi biasa, bukan pasukan lapangan. Saat itu, saya menjadi teknisi sebuah perusahaan di ketentaraan, kemudian saya menjadi insinyur.”

Ia meninggalkan dunia militer tahun 1983 ketika China mulai memperkecil jumlah pasukannya. Ia lantas terjun ke usaha elektronik.

Ren mengakui, ia bukan pengusaha hebat pada mulanya.

“Saya adalah orang yang bergelut di dunia militer sepanjang umur saya saat itu, saya terbiasa melakukan apa yang diperintahkan,” tutur Ren.

“Tiba-tiba, saya mulai bekerja di tengah sistem ekonomi pasara. Saya benar-benar tersesat. Tentu saja saya juga merugi, saya juga dicurangi, dan saya dikhianati,”

Kisah Perjalanan Huawei yang Kini Dituduh Jadi Mata-mata China

Namun ia cepat belajar, dan menjadi pembelajar yang giat akan praktik bisnis dunia barat dan sejarah Eropa.

“Saya melakukan riset tentang apa sebenarnya yang dimaksud dengan ekonomi pasar,” katanya. “Saya membaca buku tentang hukum, termasuk buku-buku hukum Eropa dan AS. Saat itu, hanya ada sedikit buku terkait hukum China, dan saya harus membaca itu di buku hukum Eropa dan AS.”

Lima tahun kemudian, ia mendirikan Huawei – nama tersebut dapat diterjemahkan dengan frasa “pencapaian yang sangat baik” atau “China biasa” – untuk menjual perangkat telekomunikasi sederhana ke pasara pedalaman China.

Dalam beberapa tahun, Huawei lantas mengembangkan dan memproduksi perangkat mereka sendiri.

Sekitar awal tahun ’90-an. Huawei memenangkan kontrak dari pemerintah untuk menyediakan perangkat telekomunikasi bagi Tentara Pembebasan Rakyat.

Hingga tahun 1995, perusahaan tersebut memperoleh pendapatan penjualan sekitar US$ 220.000 atau sekitar Rp 3 milliar, sebagian besar berasal dari penjualan ke pasar pedalaman.

Pada tahun berikutnya, Huawei memperoleh status sebagai “juara nasional” China. Pada praktiknya, ini berarti pemerintah menutup pasar terhadap kompetisi asing.

Perekonomian China yang tumbuh dengan angka rata-rata 10% per tahun memberikan keuntungan yang tidak sedikit. Namun hanya ketika Huawei mulai merambah ke mancanegara pada tahun 2000, angka penjualannya membludak.

Tahun 2002m Huawei memperoleh US$ 552 juta atau Rp 7 trilliun dari penjualan pasar internasionalnya. Hingga akhirnya pada tahun 2005, kontrak pasar internasionalnya melampaui bisnis domestik mereka untuk pertama kalinya.

Masa-masa awal Ren berbisnis menanamkan dalam dirinya sebuah hasrat untuk melindungi perusahaannya dari godaan dan fantasi akan pasar saham. Huawei didirikan secara pribadi dan dimiliki oleh pegawainya.

Hal ini memberi Ren kekuatan untuk memutar lebih banyak uang untuk keperluan riset dan pengembangan (R&D). Setiap tahun, Huawei menghabiskan US$ 20 miliar atau sekitar Rp 283 triliun untuk hal tersebut – salah satu pendanaan terbesar di dunia untuk keperluan R&D.

“Perusahaan-perusahaan publik harus sangat memperhatikan arus keluar masuk keuangan mereka,” ujarnya.

“Mereka tidak bisa terlalu banyak berinvestasi, jika tidak keuntungan akan anjlok, begitu juga harga saham mereka. Di Huawei, kami memperjuangkan idealisme kami. Kami tahu jika kamu menyuburkan ‘tanah’ kami, maka keuntungan yang didapatkan akan lebih berlimpah. Begitulah cara kami berhasil unggul dan sukses,”

Sebuah cerita di masa-masa awal beridirinya perusahaan mengisahkan bagaimana Ren memasak untuk karyawannya (ia suka memasak). Tiba-tba ia keluar dari dapur dan mengumumkan ke seantero ruangan. “HUawei akan menjadi 3 pemain teratas dalam pasar komunikasi global 20 tahun dari sekarang!”.

Dan itulah yang persis terjadi. Faktanya, ambisi-ambisi tersebut bahkan terlampui.

Kini, Huawei merupakan pedagang perangkat jaringan telekomunikasi terbesar di dunia.

Dari perusahaan rintisan hingga menjelma menjadi perusahaan seperti Apple. Kini Huawei menjual lebih banyak telepon pintar dibandingkan Apple.

Akan tetapi, bayang-bayang terus meliputi kesuksesan internasional Huawei.

Hubungan Ren dan Huawei dengan Partai Komunis China telah memunculkan kecurigaan bahwa perusahaan tersebut berutang budi pada pemangku kekuasaan politik China atas keberhasilan mereka. Amerika Serikat menuduh Huawei sebagai alat pemerintah China.

Itu adalah tuduhan yang dibantah Ren.

“Tolong jangan menganggap kesuksesan Huawei saat ini karena kami memiliki hubungan khusus,” tuturnya. “Bahkan badan usaha milik negara telah 100% gagal. Apakah hubungan khusus bisa menjamin kesuksesan? Kesuksesan Huawei sebagian besar berkat kerja keras kami.”

Awal Mula kasus Huawei Mengemuka

Hari itu tanggal 1 Desember 218. Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping menikmati makan malam stik daging sirloin panggang yang ditutup dengan kue panekuk gulung karamel pada pertemuan G20 di Buenos Aires, Argentina.

Mereka harus mendiskusikan banyak hal. Amerika dan China tengah terlibat perang dagang – menerapkan bea terhadap komoditas masing-masing – dan pertumbuhan kedua negara diperkirakan rendah. Hal ini memupuk kekhawatiran akan melambatnya perekonomian global.

Dalam pertemuan tersebut, kedua pemimpin negara sepakat menerapkan ‘gencatan senjata’. Dimana Trump kemudian mencuit di akun Twitternya bahwa “Hubungan dengan China mengalami lompatan kemajuan yang besar!”

Namun ribuan kilometer di utara Kanada, aksi penangkapan terjadi dan menimbulkan keraguan akan upaya pendekatan yang tengah dijalani.

Meng Wanzhou, kepala bidang keuangan Huawei sekaligus putri tertua Ren Zhangfei, ditahan aparat Kanada ketika berpindah penerbangan di Bandar Vancouver.

Penangkapan tersebut merupakan permintaan AS, yang menuduhnya melanggar sanksi terhadap Iran.

“Saat ia ditahan, sebagai ayahnya, hati saya hancur,” ujar Ren, emosional.

“Bagaimana mungkin saya tega melihat anak saya mengalami hal itu? Namun yang terjadi, sudah terjadi. Kami hanya bisa mengandalkan hukum untuk menyelesaikan masalah ini.”

Masalah yang merundung Huawei itu baru permulaan. Hampir dua bulan kemudian, Departeman Kehakiman AS melayangkan dua tuduhan terhadap Huawei dan Meng.

Pada tuduhan pertama, Huawei dan Menang didakwa telah menyesatkan pihak bank dan pemerintah AS terkait bisnis Huawei di Iran.

Tuduhan kedua – terhadap Huawei – melibatkan tuduhan kriminal termasuk menghalangi upaya penegakan hukum dan percobaan pencurian rahasia perdagangan.

Baik Huawei maupun Menag menyangkal kedua tuduhan tersebut.

Tuduhan pencurian rahasia perdagangan berpusar pada sebuah alat robotik – dikembangkan oleh T-Mobile – bernama Tappy.

Berdasarkan dokumen hukum, Huawei mencoba membeli Tappy, sebuah alat yang meniru jari tangan manusia dengan menyentuh layar telepon genggam secara cepat untuk menguji tingkat keresponsifan.

T-Mobile kala itu tengah menjalin kerjasama dengan Huawei, namun mereka menolak penawaran perusahaan China tersebut, karena khawatir Huawei akan menggunakan teknologi itu untuk menciptakan telepon bagi pesaing T-Mobile.

Diduga bahwa salah satu karyawan Huawei AS menyelundupkan lengan robotik Tappy ke dalam tasnya sehingga ia bisa mengirimkan rincian robot itu kepada rekannya di China.

Setelah dugaan pencurian tersebut terungkap, karyawan Huawei tersebut mengklaim bahwa lengan robotik itu tidak sengaja jatuh dan masuk ke dalam tasnya.

Huawei mengklaim bahwa karyawan tersebut beraksi sendirian dan kasus itu telah diselesaikan di pengadilan tahun 2014 lalu. Namun kasus terakhir menunjukkan adanya jejak email antara para manajer Huawei di China dan para karyawan Huawei di AS, menyeret manajeman Huawei ke dalam pusaran tuduhan pencurian.

Tuduhan itu juga merinci bukti adanya skema bonus dari tahun 2013, yang menawarkan pegawai Huawei hadiah uang bagi mereka yang bisa mencuri informasi rahasia dari para pesaing.

Huawei telah membantah terdapatnya skema itu.

Ini bukan pertama kalinya Huawei dituduh mencuri rahasia perdangangan. Selama bertahun-tahun, perusahaan seperti Cisco, Nortel dan Motorola telah menuduh Huawei atas kasus serupa.

Namun kekahwatiran AS akan Huawei lebih dari sekedar aksi mata-mata dalam ranah industri. Selama lebih dari satu dekade, pemerintah AS menganggap perusahaan itu sebagai perpanjangan tangan Partai Komunis China.

Kekhawatiran tersebut semakin menguat dengan hadirnya internet 5G atau internet “generasi kelima”, yang menjanjikan kecepatan unduh 10 hingga 20 kali lebih cepat dibanding saat ini, serta konektivitas lebih mumpuni antar perangkat.

Sebagai penyedia infrastruktur telekomunikasi terbesar di dunia. Huawei merupakan salah satu perusahaan terbaik untuk membangun jaringan 5G. Namun AS telah memperingatkan sekutu intelijen mereka bahwa menjalin kontrak dengan Huawei sama saja dengna membiarkan China memata-matai mereka.

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo baru-baru ini mengeluarkan peringatan terkait Huawei, dimana ia mengatakan. “Jika sebuah negara mengadopsinya (Huawei) dan menanamnya dalam sistem informasi penting mereka, kami tidak bisa berbagai informasi dengan negara tersebut.”

AS, Jerman dan Kanada tengah mengkaji apakah prodk Huawei mengandung ancaman keamanan.

Australia mengambil langkah lebih awal dan lebih jauh tahun lalu, dan melarang penyedia perangkat manapun” yang kemungkinan menjadi subjek yang dikendalikan secara ekstrayudisial oleh pemerintah asing.”

Nama Huawei tidak disebut secara langsung, namun Danielle Cave dari Australian Strategic Policy Institute menyatakan bahwa perusahaan tersebut mengandung risiko keamanan nasional akibat hubungan mereka dengan pemerintah China.

Ia merujuk pada pasal dalam undang-undang China yang membuat sebuah perusahaan tidak mungkin menolak permintaan bantuan dari Partai Komunis China dalam upaya pengumpulan informasi intelijen.

“Yang harus diakui, yang terlewat dari debat ini adalah bukti  yang tidak bisa dibantah ini,” ujarnya.

“Bagi masyarakat umum yang memiliki ponsel Huawei, ini bukanlah masalah besar. Namun jika anda adalah pemerintah negara barat yang harus melindungi keamanan nasionalnya – mengapa anda harus mau membuka akses terhadap perusahaan yang dalam sistem politiknya mengijinkan pemerintah China ikut terlibat?”

Terkait hal ini, Ren mengatakan bahwa sumber daya Huawei tidak pernah  dan tak akan pernah digunakan untuk memata-matai bagi pemerintah China.

“Pemerintah China dengan jelas menyatakan bahwa mereka tak akan meminta perusahaan untuk memasang pintu belakang,” paparnya.

“Pintu belakang” adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan titik masuk rahasia dalam suatu perangkat lunak atau sistem komputer yang memberikan akses kepada seseorang atau entitas tertentu yang memasangnya untuk masuk ke dalam sistem tersebut.

“Huawei juga tidak akan melakukan itu,” lanjutnya.

“Keuntungan penjualan kami saat ini mencapai ratusan miliar dollar. Kami tak akan membahayakan keburukan negara kami dan pelanggan kami di seluruh dunia hanya untuk itu. Kami bisa kehilangan bisnis kami. Saya tidak akan mengambil risiko itu.”

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *